Senin, 24 Oktober 2011

Perubahan Sosial

PERUBAHAN SOSIAL[1]


A. PENGANTAR

            Sifat alami manusia adalah sifat tidak puas terhadap apa yang dimiliki. Sifat ini menyebabkan manusia ingin mencari keadaan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sifat inilah yang mendorong manusia untuk mengubah kondisi masyarakatnya sehingga terjadinya perubahan social[2].

Contoh : Masyarakat yang tidak puas terhadap pertanian sistem tradisional mengubah sistem pertanian modern.

 

B. PENGERTIAN

1. Sosiologis

Perubahan social adalah perubahan menyangkut semua aspek baik ekonomi, politik dan budaya masyarakat.

2. Para Ahli[3]

   a) Selo Seoemardjan

   Perubahan social adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap, dan perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

   b) Kingsley Davis

   Perubahan social adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

   c) John Lewis Gillin dan John Philip Gillin

   Perubahan social adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru.

   d) Samuel Koenig

   Perubahan social adalah modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

   e) MacIver

   Perubahan social adalah perubahan dalam hubungan social atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan social.

   f) William F. Ogburn

   Perubahan social adalah perubahan pada kondisi tekologis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada aspek-aspek hubungan social, seperti kemajuan ilmu pengetahuan dan tekologi yang sangat berpengaruh terhadap pola berpikir masyarakat.

 

C. TEORI PERUBAHAN SOSIAL

Ada 3 teori tentang perubahan social[4], yakni :

1. Teori Siklus

Adalah teori yang menyebutkan bahwa perubahan itu selalu berulang-ulang.

Apa yang terjadi sekarang mirip dengan apa yang terjadi sebelumnya. Ada 4 proses yang umum terjadi dalam masyarakat, yakni : Kelahiran, Pertumbuhan, Keruntuhan dan kematian.

 

2. Teori Perkembangan atau Linier

Adalah teori yang menyebutkan perubahan dapat diarahkan ke tujuan tertentu.

Dalam teori ini ada 2 proses yang umum terjadi yakni : Evolusi atau perubahan secara lambat dan Revolusi atau perubahan secara cepat.

 

3. Teori Cakra Manggiling (Roda Pedati)

Adalah teori yag menyebutkan perubahan masyarakat melalui 4 tahap umum yakni : Kelahiran, Pertumbuhan, keruntuhan dan kematian. Teori ini didasarkan pada gejala perkembangan manusia, yakni : lahir, berkembang, dewasa dan mati.

 

 

D. BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL

Ada beberapa bentuk perubahan social dalam masyarakat[5], yakni :

  1. Evolusi : perubahan secara lambat dan bertahap. Contoh : evolusi manusia, dan evolusi mata pencaharian.
  2. Revolusi : Perubahan secara cepat dan mendasar. Contoh : Revolusi Perancis, Revolusi Industri di Inggris.
Revolusi dalam masyarakat dapat terjadi apabila memenuhi syarat :

    1. Adanya keinginan untuk mengadakan perubahan
    2. Adanya sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat.
    3. Pemimpin harus mampu menampung keinginan masyarakat, yang kemudian merumuskan dan menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat untuk dijadikan program dan arah pergerakan.
    4. Pemimpin harus dapat menunjukkan tujuan kepada masyarakat yang bersifat konkret dan dapat dilihat.
    5. Adanya momentum/waktu yang tepat untuk revolusi.
  1. Perubahan Kecil : Perubahan yang membawa pengaruh kecil dalam masyarakat. Misal : mode pakaian, mode rambut dsb.
  2. Perubahan besar : Parubahan yang membawa pengaruh besar dalam masyarakat. Misal : Perubahan sistem politik.
  3. Perubahan dikehendaki (pembangunan) : Perubahan yang direncanakan dahulu. Misal : program KB, dan UU no 10 tahun 63 tentang perkawinan.
  4. Perubahan Tidak dikehendaki : Perubahan tanpa direncanaka dahulu. Misal : Perubahan tata cara perkwinan karena terbatasnya biaya, waktu dsb.
  5. Perubahan Struktural : Perubahan yang mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat. Misal : Perubahan system pemerintahan dari monarkhi ke republik.
  6. Perubahan Proses : Perubahan yang sifatnya tidak mendasar dan melengkapi perubahan-perubahan sebelumnya. Misal : Kurikulum pendidikan.
  7. Progres : adalah perubahan yang mengarah kemajuan. Misal : Internet memudahkan orang mengakses Informasi
  8. Regres : adalah perubahan yang mengarah kemunduran. Misal : Bajak mengurangi pengerjaan tanah bersama-sama bagi masyarakat desa (gotong royong).
 

E. FAKTOR-FAKTOR PERUBAHAN SOSIAL[6]

 

  1. Faktor yang Muncul/Mendorong perubahan social
    1. Internal (dari dalam)
1. Bertambah dan berkurangnya penduduk

Bertambahanya penduduk dapat disebabkan tingkat kelahiran tinggi dan peningkatan jumlah pernikahan usia produktif. Sedangkan berkurangnya penduduk dapat disebabkan : berhasilnya program KB, bencana alam, dan perpindahan penduduk (urbanisasi, transmigrasi dsb.)

2. Penemuan baru

Ada beberapa jenis penemuan baru :

a. Discovery adalah penemuan unsure kebudayaan baru baik berupa alat ataupun gagasan.

b. Invention adalah proses dimana suatu unsure kebudayaan baru dihasilkan dengan mengkombinasikan atau menyusun kembali unsure kebudayaan lama masyarakat.

Catatan :

·         Discovery menjadi invention apabila masyarakat sudah mengetahui, menerima dan menerapkan penemuan baru.

·         Kadangkala discovery sampai menjadi invention membutuhkan rangkaian penciptaan.

Penemuan baru secara individual didorong oleh :

a. Kesadaran perorangan akan kekurangan kebudayaan.

b. Kualitas dari ahli dalam suatu kebudayaan.

c..Perangsang atau stimulus bagi aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

3. Konflik dalam masyarakat

4. Pemberontaka dan Revolusi

 

    1. Eksternal (dari luar)
1. Lingkungan alam yang berubah

2. Perang

3. Pengaruh budaya lain

 

  1. Faktor yang menghalangi perubahan social
    1. Kurang hubungan dengan masyarakat lain
    2. Perkembangan IPTEK yang terlambat
    3. Sikap mengagungkan tradisi. Misal : Suku Badui
    4. Adanya kepentingan tertanam kuat (vested interest)
    5. Rasa takut goyahnya kebudayaan
    6. Prasangka terhadap hal-hal asing
    7. Hambatan idiologis
    8. Kebiasaan yang sukar diubah
 

  1. Faktor Pendorong  perubahan social
Perubahan social dapat terjadi karena factor-faktor :

a. Kontak dengan kebudayaan lain

b. Sistem pendidikan formal yang maju

c. Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju

d. Sistem terbuka dalam lapisan masyarakat (Open stratification)

e. Penduduk yang heterogen

f. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu

 

 

 

 

G. DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL

Ada beberapa dampak akibat dari perubahan social, yakni :

1. Konsumerisme dan etos kerja manusia modern

2. Kesenjangan Sosial Ekonomi

3. Pencemaran Lingkungan

4. Kriminalitas

5. Kenakalan Remaja.

 

 

H. PROSES PERUBAHAN SOSIAL

Ada 3 proses perubahan social, yakni :

  1. Penyesuaian masyarakat
  2. Saluran mobilitas social
  3. Disorganisasi dan reorganisasi
 

 

I. DAMPAK ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

1. Dampak Invensi, yakni :

            a. Dispersi

b. Suksesi

c. Konvergensi

2. Dampak Sosial Teknologi

            a. Dampak Positif

            b. Dampak Negatif

3. Dampak Perubahan social terhadap Budaya dan masalah social

4. Dampak perubahan social terhadap disorganisasi

            a. Masalah moral

            b. Rusaknya stabilitas social dan hancurnya nilai-nilai harmonis

            c. Tindakan criminal dan perilaku yang menyimpang

            d. Sekularisasi

            e. Konsumerisme

            f.  Westernisasi

Rabu, 12 Oktober 2011

Ilmu Hubungan Internasional


VISI
Menjadi lembaga terkemuka penyelenggara pendidikan dan pengajaran, penelitian, publikasi dan pengabdian kepada masyarakat di bidang Ilmu Hubungan Internasional baik di tingkat nasional maupun internasional yang mampu memberikan kontribusi kongkrit ke arah pencapaian tujuan nasional bangsa dan terciptanya tatanan masyarakat dunia yang tertib, adil dan sejahtera.
MISI
  1. Menyelenggarakan program pendidikan di bidang Ilmu Hubungan Internasional untuk jenjang Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktoral (S3) dengan pendekatan kualitas manajemen pengajaran berbasis “integrated‐comprehensive methods‐based learning”, yang bertumpu pada kurikulum yang inovatif dan dinamis serta metode pembelajaran berbasis riset, baik pada substansi maupun proses, sehingga mampu membekali peserta didik dengan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perilaku professional untuk dapat bersaing menghadapi tantangan dan peluang kompetisi pasar bebas abad ke‐21.
  2. Menyelenggarakan kegiatan‐kegiatan penelitian atau pun kajian‐kajian di bidang Ilmu Hubungan Internasional yang bersifat mendasar maupun terapan, yang mampu memberikan pengayaan pada kegiatan pengajaran, mendorong dinamika Ilmu Hubungan Internasional, sekaligus member kontribusi nyata kepada masyarakat luas, khususnya kepada komunitas pengambil kebijakan di sector pemerintah maupun swasta.
  3. Mendinamisasi berbagai aktivitas pengabdian masyarakat, baik berupa seminar, pelatihan dan publikasi ilmiah, baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan lembaga‐lembaga lain, dalam rangka meningkatkan relevansi studi Ilmu Hubungan Internasional sekaligus memperkuat jejaring kerja di antara komunitas epistemik maupun komunitas pengambil kebijakan.
  4. Menyediakan dan mengembangkan sarana kerja yang dapat men‐dukung terciptanya iklim kerja yang kondusif bagi segenap sivitas akademika dalam rangka meningkatkan kinerja dan performa lembaga.
TUJUAN

  1. Menghasilkan lulusan‐lulusan berkualitas di setiap jenjang pendidikan yang memiliki integritas kepribadian, kompetensi keilmuan yang memadai serta kompetensi sosial yang tangguh sehingga memungkinkan mereka memiliki daya saing tinggi sekaligus mampu memberikan kontribusi profesional di dunia kerja.
  2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pengajar, peneliti serta karyawan non‐akademik dengan berbagai cara yang mungkin (seperti: pelatihan, peningkatan kesejahteraan, dan lain sebagainya) agar dapat bekerja secara profesional, produktif dan kompetitif sehingga mampu meningkatkan performa lembaga secara internal maupun eksternal.
  3. Mengembangkan dan menguatkan jejaring kerja dengan berbagai lembaga (pemerintahan, swasta, nasional, asing) untuk mendukung kegiatan pengajaran, penelitian, dan publikasi di lingkungan Departemen Ilmu Hubungan Internasional, sekaligus mempertegas eksistensi Departemen Ilmu Hubungan Internasional di antara komunitas epistemik dan pengambil kebijakan.